SEJARAH KUALA BATEE

Jejak Kerajaan Kuala Batee:
Sejarah yang Tersembunyi di Aceh Barat Daya

Oleh: Syahrul Ramadhan, S.Pd.I., Gr
(Guru SKI pada MAS Kuala Batee Kab. Aceh Barat Daya)


Pernahkah Anda mendengar tentang Kerajaan Kuala Batee? Nama ini mungkin tidak sepopuler Samudera Pasai atau Aceh Darussalam, tetapi kerajaan kecil di pesisir barat Aceh ini menyimpan kisah penting dalam sejarah Nusantara.

Dari Kuala Batu ke Kuala Batee
Nama kerajaan ini sering ditulis berbeda: ada yang menyebut Kuala Batu, ada pula Kuala Batee. Keduanya merujuk pada hal yang sama. “Kuala” berarti muara sungai, sedangkan “Batee” berarti batu. Jadi, Kuala Batee berarti muara berbatu, sesuai kondisi geografis daerah tersebut. Dalam catatan asing, terutama Amerika Serikat dan Belanda, nama yang tercatat adalah Kuala Batu.

Pusat Kekuasaan di Pesisir Barat
Kerajaan ini berpusat di muara Kuala Batee, Aceh Barat Daya. Dari sinilah raja mengatur perdagangan laut, mengawasi pelabuhan, dan menjalin hubungan dengan pedagang dari berbagai negeri. Wilayah kekuasaan kerajaan membentang cukup luas: ke utara hingga Meulaboh, ke selatan berbatasan dengan Blangpidie. Namun daerah pedalaman seperti Babahrot berdiri sendiri dan tidak sepenuhnya masuk dalam kekuasaan raja Kuala Batee.

Raja dan Kehancuran
Salah satu raja yang terkenal adalah Teuku Karim. Pada masanya, kerajaan menghadapi tekanan besar dari kekuatan asing. Tahun 1831, kapal perang Amerika Serikat menyerang Kuala Batee dalam peristiwa yang dikenal sebagai Ekspedisi Pertama Amerika ke Sumatra. Serangan ini melemahkan kerajaan, dan Belanda kemudian mengambil alih pengaruh di wilayah pesisir. Sejak itu, kekuasaan kerajaan merosot hingga akhirnya runtuh pada akhir abad ke-19.

Desa Padang Sikabu: Penopang Kerajaan
Salah satu desa yang erat hubungannya dengan kerajaan adalah Padang Sikabu. Letaknya hanya beberapa langkah dari muara Kuala Batee, sehingga menjadi penopang penting kerajaan.
  • Ekonomi: lahan subur membuatnya jadi lumbung pangan kerajaan.
  • Sosial: tempat bermukimnya hulubalang dan keluarga yang dekat dengan pusat kerajaan.
  • Kultural: nama Padang Sikabu berasal dari rumpun pohon kabu — sejenis perdu yang tumbuh bergerombol di padang lapang. Jadi, nama desa ini berarti hamparan padang yang ditumbuhi pohon kabu.
Padang Sikabu menjadi saksi sejarah saat kerajaan menghadapi serangan asing. Hingga kini, desa ini masih mempertahankan nama tua yang mengingatkan pada masa kejayaan Kuala Batee.

Peninggalan yang Tersisa
Tidak ada istana megah yang tersisa dari Kerajaan Kuala Batee. Besar kemungkinan, istana yang terbuat dari kayu musnah dimakan waktu. Namun, jejak kerajaan masih hidup melalui nama-nama desa tua seperti Padang Sikabu, Lhok Gajah, Keude Paya, Babah Dua, dan Alue Peunawa. Tradisi lisan masyarakat juga menjadi warisan yang menjaga ingatan sejarah tetap ada.

Penutup
Kerajaan Kuala Batee adalah bukti bahwa sejarah Aceh tidak hanya berpusat di istana besar, tetapi juga di kerajaan-kerajaan kecil yang memainkan peran penting di jalur perdagangan laut. Meski telah runtuh lebih dari satu abad lalu, jejaknya tetap terasa di desa-desa yang ada hingga kini.

Referensi
  1. Reid, Anthony. An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra. Singapore: NUS Press, 2005.
  2. Kathirithamby-Wells, J. “Acehnese Control over West Sumatran Trade in the 17th Century.” Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 2, No. 1, 1971.
  3. Groeneboer, Kees. Gatekeepers of the Malay World: Language, Literature and Identity. KITLV Press, 1998.
  4. Tradisi lisan masyarakat Kuala Batee dan Abdya, wawancara dengan tetua gampong (data lokal).
  5. Laporan ekspedisi Amerika Serikat ke Sumatra, 1831 (Sumatra Expedition Reports, US Naval Archives).
  6. Kamus Aceh-Melayu, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Banda Aceh.

Posting Komentar

0 Komentar